Senin, 18 April 2011

METODE PELAKSANAAN PROYEK

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

Berikut ini adalah tahapan pekerjaan yang akan dilakukan dalam proyek ini :

1. Persiapan Pekerjaan
a. Mobilisasi Tenaga Kerja
Sebelum melaksanakan pekerjaan, persiapan yang harus dilakukan dalam proyek adalah mempersiapkan tenaga kerja yang profesional yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan di lapangan. Selain dari pekerja-pekerja lapangan, dalam pelaksanaannya juga harus mempersiapkan staf pengawas lapangan baik dari proyek itu sendiri, konsultan, maupun kontraktor.

b. Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan pekerjaan penyedia fasilitas- fasilitas yang berfungsi dapat mendukung terlaksananya dan kelancaran kegiatan proyek mutlak diperlukan. Oleh karena itu alat-alat berat digunakan sebagai salah satu fasilitas dalam pekerjaan dapat menunjang kelancaran dan terlaksananya kegiatan pelaksanaan pekerjaan di lokasi proyek, mulai dari tahap pelaksanaan sampai akhir tahap pelaksanaan.

Alat-alat berat tersebut harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan, kondisi lapangan dan kemampuan pekerjaan yang mampu dilaksanakan, dimana sejumlah alat berat perlu dikoordinasikan dengan secermat mungkin untuk mendapatkan efisiensi pekerjaan yang sebaik-baiknya.

Peralatan yang dipergunakan pada proyek Peningkatan Jalan Penghubung/Poros Desa Lorok – UPT 1 Parit antara lain yaitu :
Motor Grader, Vibrating Compactor, Tired Roller, Mobil Pick up, Sekop Penebar Agregat, Aspalt sprayer, Tandem Roller,

2. Mobilisasi Material
Material yang dipergunakan dalam proyek Pembanguan Jalan Penghubung/Poros Desa Lorok – UPT 1 Parit antara lain berupa agregat kelas A, agregat kelas B, serta aspal. Batu pecah yang berupa bahan dasar dari agregat kelas A dan agregat kelas B didatangkan dari jasa peyedia . Sedangkan untuk aspal, diperoleh dari tempat pengolahan aspal yang berlokasi Boom Baru Pusri Palembang.

3. Pelaksanaan Lapangan
Pelaksanaan pekerjaan untuk proyek ini meliputi pekerjaan tanah dasar yaitu berupa galian dan timbunan. Kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan perkerasan berbutir yang terdiri dari pekerjaan penghamparan sirtu kelas C untuk lapis pondasi bawah dan juga pekerjaan penghamparan agregat B untuk lapis pondasi atas. Setelah itu pekerjaan perkerasan beraspal yaitu pekerjaan lapis permukaan baru dapat dilakukan. Pekerjaaan lapis permukaan pada proyek ini mempergunakan perkerasan lentur berupa lapisan penetrasi.

3.1 Pekerjaan Tanah
Pekerjaan awal dari pengerjaan pembuatan jalan adalah pekerjaan pemadatan tanah dasar, karena lapisan tanah dasar merupakan lapisan akhir yang menerima beban, baik baban mati maupun beban bergerak. Tanah timbunan (urugan) yang dipergunakan untuk tanah dasar dibagi menjadi dua macam yaitu tanah timbunan biasa dan tanah timbunan pilihan. Pada proyek ini digunakan tanah timbunan biasa.

A. Penyiapan Tanah Dasar (Sub Grade)
Pekerjaan ini meliputi kegiatan-kegiatan :
1. Pembersuhan Daerah Milik Jalan (DMJ) untuk jalan penghubung selebar 15 – 20 meter. Pekerjaan ini meliputi pembersihan segala macam tumbuhan, pohon-pohon, semak-semak, sampah, akar-akar dengan menggunakan Motor Grader.
2. Pembuangan Lapisan Tanah Atas (Top Soil)
Pada umumnya, pekerjaan ini meliputi pembuangan lapisan tanah humus, dan akar-akar yang ketebalannya tidak boleh kurang dari 30 cm dari permukaan tanah asli. Pekerjaan ini dilakukan pada daerah galian dan timbunan. Setelah itu, baru dilakukan pemadatan sampai mencapai tingkat pemadatan yang disyaratkan. Pada tempat yang tanahnya lembek harus diadakan perbaikan tanah terlebih dahulu dengan membuang tanah yang lembek dan diganti dengan tanah yang baru.

B. Pekerjaan Timbunan
Setelah badan jalan terbentuk, maka tahap selanjutnya adalah melakukan penimbunan pada bagian jalan yang ketinggiannya rendah sehingga diperoleh ketinggian badan jalan yang sama (rata). Penimbunan juga dilakukan untuk mendapatkan lebar jalan sesuai dengan rencana.

Pada proses penimbunan, hal pertama yang dilakukan adalah menghamparkan tanah timbunan pada daerah yang akan di timbun, setelah itu tanah dasar tersebut diratakan dengan menggunakan motor grader. Selain meratakan tanah, motor grader juga berfungsi membentuk kemiringan melintang jalan. Setelah diratakan lapisan tanah dipadatkan dengan menggunakan tandem roller atau mesin gilas roda tiga yang dilakukan berulang-ulang sampai padat. Setelah dipadatkan menggunakan tandem roller, lapisan atas dipadatkan lagi menggunakan vibrating compactor.

Pada penggunaaan vibrating compactor selain dapat memadatkan tanah juga dapat memberikan tekanan dan getaran terhadap material yang dipadatkan sehingga gelembung udara yang masih terperangkap di dalam tanah dapat keluar secara berangsur-angsur. Selain itu pemadataan juga bertujuan untuk meningkatkan daya dukung tanah dan menghindarkan pergeseran yang dapat menyebabkan keretakan serta dapat menaikkan daya tahan tanah terhadap perubahan cuaca.
Pekerjaaan tanah dasar harus diselesaikan sepenuhnya terlebih dahulu, setelah itu baru dilanjutkan dengan pekerjaan perkerasan lapis pondasi bawah (sub base). Pada pengerjaan lapisan pondasi bawah, lapis pondasi tersebut tidak boleh ditempatkan, dihamparkan, atau dipadatkan sewaktu turun hujan dan pemadatan tidak boleh dilakukan setelah hujan.

Lapis pondasi dari bahan sirtu dibawa menggunakan dump truck ke badan jalan, kemudian dihamparkan menggunakan motor grader. Selanjutnya dirapikan secara manual oleh pekerja. Setelah itu lapisan pondasi tersebut dipadatkan dengan vibrating compactor agar bahan sirtu tertanam kuat pada tanah dasar dan tingkat kepadatan yang sesuai dapat tercapai.


3.2 Pekerjaan Lapisan Pondasi (Base)
Setelah lapisan pondasi dihampar dan dipadatkan, maka proses selanjutnya adalah penghamparan batu pokok ukuran 3 – 5 cm sebagai lapis pondasi (base). Sebelum batu pokok dihampar, permukaan pondasi bawah dibersihkan dari kotoran dan debu dengan sapu lidi dan diratakan. Kemudian Batu Pokok disebar/dihampar secara merata di atas permukaan lapis pondasi bawah.










Gambar 4.4 Penghamparan lapis pondasi

Sebelum dipadatkan dengan vibrating compactor, lapisan pondasi tersebut disiram dengan air agar mudah dalam pemadatan dan batu pokok dapat melekat dengan lapisan pondasi bawah sehingga tidak mudah lepas. Penyiraman dengan air ini tentunya tetap memperhatikan kadar air yang tepat. Selanjutnya baru dilakukan pemadatan dengan vibrating compactor yang dimulai dari tepi dan bergeser ke tengah/as jalan sampai padat




3.3 Pekerjaan Lapisan Permukaan (Lapisan Penetrasi)
Pekerjaan lapis permukaan terdiri dari beberapa item pekerjaan, antara lain adalah Lapis Resap Pengikat, Lapis Pengisi rongga. Lapis resap pengikat (prime coat) adalah lapis tipis aspal cair yang diletakkan di atas lapis pondasi atas sebelum lapis berikutnya dihampar. Aspal cair ini dapat meresap ke dalam lapis pondasi mengisi rongga dan memperkeras permukaan serta mengikat lapis pondasi dan lapis permukaan.

Hal pertama yang dilakukan pada pekerjaan lapisan penetrasi ini adalah memanaskan aspal yang ada di dalam drum yang telah dibuka di bagian badan atau tutup dari drum tersebut. Pemanasan aspal ini tidak boleh terlalu panas karena dapat menyebabkan kebakaran dan sifat kelengketan dan kelenturan aspal menjadi rusak.

Selanjutnya aspal yang sudah cair atau lapis resap pengikat (prime coat) disemprotkan/disiramkan ke permukaan batu pokok sebanyak kira-kira 3,7 liter setiap meter persegi. Lapis resap pengikat harus disemprot pada permukaan yang kering atau mendekati kering dan pelaksanaan penyemprotan tidak boleh dilaksanakan pada saat angin kencang, hujan, atau akan turun hujan. Sebelum aspal disiramkan, permukaan lapis pondasi terlebih dahulu di bersihkan dengan sapu lidi.

Setelah lapis resap pengikat disiramkan ke permukaan lapis pondasi, batu pengunci ukuran 2 – 3 cm dihamparkan diatas lapis resap pengikat secara merata sebanyak 0,017 meter kubik setiap meter persegi (seperti dalam tabel) dan buat kemiringan melintang lebih kurang 3 %.
Batu pengunci yang sudah dihampar kemudian dipadatkan dengan vibrating compactor minimal 6 kali lintasan sampai padat, atau seperti prosedur pemadatan pada lapisan pondasi. Yaitu dimulai dari bagian tepi dan bergeser ke tengah/as jalan sampai padat.

Setelah batu pengunci dipadatkan, aspal cair kembali disiramkan secara merata di atas lapisan batu pengunci sebanyak 1,5 liter setiap meter persegi. Kemudian lapisan penutup (pasir) ditebarkan secara merata pada permukaan lapisan batu pengunci yang sudah disiram aspal sebanyak 0,01 meter kubik setiap meter persegi dan buat kemiringan melintang lebih kurang 3 %.

Selanjutnya lapisan penutup yang telah dihampar tersebut dipadatkan kembali dengan vibrating compactor sampai padat dengan prosedur pemadatan sama seperti pemadatan lapisan sebelumnya.
Dalam pelaksanaan pekerjaan perkerasan jalan dengan lapisan penetrasi ini, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, diantaranya sebagai berikut :
• Batu pokok, batu pengunci dan lapisan penutup (pasir) harus kering, baik sebelum maupun sesudah disiram aspal.
• Selama beberapa waktu, lapisan penutup akan terdorong ke tepi jalan akibat lalu lintas yang lewat. Oleh karena itu, agar LAPEN tidak cepat aus maka lapisan penutup (pasir) yang tersebar di pingir jalan tersebut harus dikembalikan ke tengah permukaan jalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar